Profil
- Tuesday, February 17, 2009, 10:49
- Add a comment
Glory for Senator, From Lamongan With Love:
Memanusiakan Manusia, Mengagamakan Agama, Mengimankan Iman
Gus H. Glory Islamic, S.Ag., M.Si. Generasi yang lahir tumbuh dan berkembang di lingkungan desa, tapi sekarang mapan menempati posisi sebagai Regional Office Director HSP-USAID East Java. Di usia yang masih merangkak 32 tahun, level jabatan di posisi tersebut adalah lompatan quantum sebuah prestasi yang patut disyukuri. Karena seleksi pemilihan jabatan di lembaga internasional sekelas USAID sangat ketat dan benar-benar mempertimbangkan asas kecakapan profesional dengan standar internasional.
Keluarga
Bapa Guru Muhammad Abdullah Muchtar adalah guru hidup, ayah, sekaligus sumber inspirasi dan motivasi pencapaian sukses karir Gus H. Glory Islamic. Buat seorang suami yang akrab disapa Gus Glory ini, Bapak Guru Muhammad Abdullah Muchtar adalah energi pembangkit etos kerjanya.
”Bapa Guru Abi Muchtar adalah sosok sukses yang menjadi panutan hidup saya. Bagi saya, apa yang saya raih sekarang ini adalah berkat rahmat Allah melalui doa restu, bimbingan, pengorbanan, dan dorongan motivasi dari Abi. Bukan pada pencapaian karirnya, tetapi untuk misi apa karir itu dibangun dan dikemanakan hasil kerja itu. Beliau senantiasa menyemangati saya untuk bekerja dengan giat karena hasilnya akan dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan umat dunia akhirat. Bukan sekadar untuk memenuhi kepentingan pribadi dan kebutuhan keluarga saja. Abi Muchtar mengajarkan bahwa kita harus berani memberikan barang yang kita cintai.”, ungkapnya.
Ibu Guru Hj. Masyrifah, wanita unggul yang telah melahirkan Gus Glory, juga figur yang berperan sangat penting dalam mengiringi dinamika kehidupannya. ”Ibu Guru Hj. Masyrifah adalah wanita teladan jaman ini yang setia mengasihi saya mulai dari saat di kandungan hingga sekarang saya sudah memiliki 6 putera-puteri. Tetap saja kasih dan cinta beliau terus mengalir jernih dan tulus. Dalam setiap kesempatan beliau memberikan perhatian dalam bentuk peringatan dan menyebut nama putera-puterinya, termasuk saya, dalam doa-doa di sujud duha dan tahajud.”, akunya.
Dari ibunyalah, pria kelahiran Lamongan 26 Juni 1976 ini ditempa kasih sayang, sikap empati, dan semangat peduli. Kepedulian akan nasib kaum papa itu lebih terpatri kuat mengingat sejak lahir wong ndeso ini tumbuh dan berkembang di tengah ratusan anak yatim piyatu di Panti Asuhan Pancasila dan puluhan lanjut usia Panti Wredha Mental Kasih yang diasuh orangtua serta diberikan contoh konkret bagaimana hidup dan melayani sesamanya yang papa itu.
Pendidikan dan karir dunia akhirat
Pendidikan yang senantiasa ditanamkan dalam keluarga menjadi faktor penentu karir Gus Glory. ”Keluarga terutama Abi, Ibu, Ummi dan saudara saya adalah madrasah agung yang membentuk karakter dan visi misi hidup saya dalam berorganisasi, bekerja, bermasyarakat. Di keluargalah fungsi pendidikan yang berasas long life learning seyogyanya diletakkan layaknya fondasi kukuh yang menguatkan tiang pancang dan keseluruhan isi bangunan.”, terang Gus Glory.
Diakuinya, meski telah menamatkan jenjang magister bidang pengembangan sumber daya manusia (human resource development) di Universitas Airlangga dengan predikat cumlaude dan beasiswa, pendidikan dalam keluargalah yang justeru banyak menempa pengalaman sehingga kaya praktik-praktik terbaik dalam mendukung posisi strategisnya sekarang ini. Bagi guru yang masih aktif sebagai Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Ruhul Amin ini, pendidikan formal adalah komplemen dari pendidikan sepanjang hidup yang didapat dari keluarga dan lingkungannya.
Dari keluarganya banyak keputusan hidup terutama pilihan karir yang diambil berdasarkan usul dan pertimbangan. Pilihan untuk resign dari District Manager North Aceh & Lhoksuemawe Save the Children dan kemudian pulang ke Lamongan tahun 2006 adalah satu contohnya. Padahal bila diukur dari segi pendapatan dan promosi karir, jabatan di Aceh cukup menjanjikan dan prestisius. Tapi atas saran dan permintaan keluarga, Gus Glory rela melepas kesempatan itu dan memilih tawaran sebagai Regional Office Director USAID East Java di kantor Surabaya.
Glory for Senator
Pilihan untuk menjadi senator ini juga satu bukti bahwa keluarga sangat berperan menentukan kelanjutan karirnya. Keputusan mencalonkan diri sebagai anggota DPD semata-mata memenuhi saran dan keinginan keluarga dengan mengemban misi mengajak agama dan umat manusia kembali kepada aslinya. ”Ini memang sebuah perjuangan berat dan beresiko dunia akhirat. Makanya dukungan yang saya butuhkan selain doa restu adalah terutama ikut menyebarkan ajakan kemanusiaan yang kami serukan”, harapnya.
Niat menjadi senator ini murni dorongan dari keprihatinan melihat kondisi umat yang saat ini butuh pencerahan. Terutama perilaku para legislator di ruang dewan yang lebih banyak terdengar sumbang dan cenderung mengabaikan Tuhan, Agama, Negara, dan Aturan ke-Indonesiaan. Perlu diingat bahwa mereka ini adalah wakil yang dipilih rakyat dalam menyalurkan aspirasinya. Jika wakil rakyat seperti itu maka sungguh kasihan para pemilih yang telah mempercayakan amanatnya. Untuk itu perlu revolusi mental di tengah ruang rapat, di meja komisi, di setiap agenda sidang, dan di setiap pembahasan aturan keIndonesiaan.
Masyarakat Indonesia yang beragama adalah aset penting untuk mengembalikan kegemilangan Nusantara lama. Sayangnya agama yang ada sekarang ini masih berhenti pada simbol-simbol yang artifisial dan baru pengakuan secara formal. Belum dilaksanakan secara menyeluruh dan memberi rahmat kepada semua umat. Semestinya kalau sudah beragama, maka setiap orang akan saling membantu. Setiap orang akan saling mengasihi bukan saling membenci. Semua orang akan saling memaafkan bila ada kesalahan bukan membalas menghujat dengan kata makian. Membuang marah dan dendam bila disakiti. Semua komponen bangsa sadar aturan, menepikan ego kepentingan dan adanya hanya saling menguatkan. Karena pada awalnya, kata agama terambil dari bahasa Sanskerta: ”a”=tidak dan ”gama”=kocar-kacir. AGAMA berarti tidak kocar-kacir. Agama berarti tunduk pada peraturan. Agama berarti menjunjung kebhinekaan Indonesia yang beragam karakter, suku, bahasa, warna kulit, & budayanya.
Khusus untuk mengatasi kemiskinan yang menjadi isu sensitif negeri ini, agama adalah jawaban satu-satunya. Bila PBB masih sibuk mencari rumusan bagaimana caranya memerangi kemiskinan lewat MDG, benchmarking HDI, dst, maka Indonesia sebenarnya sudah punya solusinya. Yakni orang Indonesia yang taat beragama.
Kalau pengakuan beragama kita semua sudah mengakar, mengurat nadi, maka hasil usaha kerja adalah untuk kebersamaan. Bukan dinikmati pribadi dan keluarga sendiri. Bila kita serius beragama, maka sebenarnya kita semangat kerja dan hasilnya untuk menyantuni-memberdayakan kaum papa yang tidak memperoleh akses kemajuan pembangunan. Secara riil adalah menyedekahkan sebanyak-banyaknya hasil usaha kita kepada fakir miskin, yatim, jompo, janda, lansia telantar, pembangunan rumah ibadah, sekolah, perbaikan fasilitas umum, beasiswa kepada murid yang tidak mampu, meringankan beban hutang saudara/kerabat yang melarat, dst.
Sungguh kalau semua umat Indonesia yang beragama mau meneladani tokoh-tokoh agama terdahulu, maka kemiskinan negeri akan segera teratasi. Kalau memakai rumusan peraih Nobel dari Pakistan Profesor Yunus, Indonesia butuh waktu 30 tahun bisa keluar dari kemiskinan. Maka jika memakai aturan agama dan meneladani kisah hidup para pembawa agama, tidak perlu sampai 30 tahun Indonesia keluar dari kemiskinan. Satu minggu saja sudah bisa terlihat hasilnya. Bagaimana tidak?
Kalau meneladani Sidharta Gautama Budha misalnya. Beliau adalah putera mahkota anak raja yang tinggal dalam kemewahan istana dan layanan yang serba ada. Kemudian atas kesadaran dan kepedulian kepada si miskin, beliau rela pergi dari istana selanjutnya menjadi hamba jelata yang bertapa, dan menganjurkan kebenaran. Rasulullah Isa AS yang hidup sahaja sampai tidak sempat membuat rumah karena sibuk memikirkan, membimbing membela umatnya. Nabi Musa AS yang awalnya putera raja kemudian rela ikhlas ”turun derajat” bekerja sebagai penggembala karena membela kaum yang lemah.
Baginda Rasulullah Muhammad SAW yang awalnya beristerikan Khadijah radhiyallaahu anha, berprofesi sebagai pebisnis sukses, kaya raya, akhirnya wafat dalam keadaan sangat sahaja. Jauh dari potret kemewahan. Beliau-beliau meneladani bahwa pengorbanan pengamal agama itu luar biasa beratnya. Siap tidak populer di dunia. Siap dijauhi karena melawan kemapanan dan arus keumuman. Siap mengorbankan tenaga, fikiran, harta dan bahkan jiwanya untuk kepentingan bangsa-agama-negara.
Intinya, pengamal agama tidak perlu malu menjadi miskin. Tidak perlu terobesesi kaya karena takut miskin lalu menghalalkan segala cara. Melegitimasi korupsi dan usaha amoral lainnya. Justeru pengamal agama itu kalau awalnya kaya maka harus siap miskin karena untuk pengorbanan kepentingan umat. Disinilah letak pentingnya fungsi agama. Bahwa agama bisa menyelesaikan semua persoalan, khususnya kemiskinan. Pangeran Charles dari Inggris pun mengakui bahwa ”Agama dapat mengatasi persoalan kemiskinan”. Hal itu ditegaskan dalam kunjungannya ke Indonesia tahun 2008.
Akhirnya kalau semua serius beragama, maka akan berlomba membantu. Semua orang akan berebut menyedekahkan ketika ada saudara yang kelaparan, ditimpa kesusahan, dulur sebangsa yang kekurangan, dst. Semua orang kaya akan peduli nasib si miskin dan berusaha sekuat tenaga pikiran meringankannya. Akhirnya tidak ada lagi kesenjangan sosial atau persoalan kemiskinan yang berlarut-larut.
Itulah salah satu yang melatari Gus Glory Islamic yang merupakan salah satu ustadz tafsir di Pesantren SPMAA ini, siap dengan Bismillah mengikuti pencalonan anggota DPD pemilu 2009. Karena bila pertimbangannya adalah finansial dan mengejar popularitas semata, maka posisi jabatan direksi yang sekarang ini jauh lebih menguntungkan dari segi apapun. ”InsyAllah niatan pencalonan ini demi kemanusiaan, kebangsaan, dan keunggulan semua umat manusia dunia akhirat. Mengajak manusia Mengenal Allah Secara Mendekat dan Mendasar. Melatih Diri Mengetahui Musuh Ghaib Syetan. Menanam Keyakinan Dunia Akhirat. Itulah misi yang hendak saya sebarkan.”, tegas putra ke-6 dari 20 bersaudara ini penuh keyakinan.
Bila kemarin perjuangan Gus Glory dirintis melalui kursi di luar sistem pemerintahan yang lebih banyak bekerja langsung bersama masyarakat, maka sekarang mencoba menggugah kesadaran beragama, berbangsa dan bernegara lewat kursi legislatif dengan harapan bisa memberikan sumbangsih dalam perbaikan sistem dan pola aspirasi.
Pengalaman sebagai professional worker di lembaga internasional akan dijadikan bahan untuk bersama komponen legislator yang lain memperbaiki sistem. Sementara pengalaman hidup berdampingan dengan masyarakat cilik dan lingkungan tumbuh kembang di sekitar anak yatim dan fakir miskin, akan dijadikan bekal untuk memperbaiki cara para legislator mendengar dan memperjuangkan aspirasi kaum ardzalun.
Sebagai perwakilan masyarakat yang mengemban tugas berat dan bertanggungjawab dunia akhirat, idealnya anggota legislatif harus menerapkan resep hidup yakni: kuat berdoa di mana saja, siap diremehkan, banyak-banyak bersedekah, bersifat jujur, ikhlas, ridho, wirai, memiliki integritas, prinsip yang tegas, serta BERANI MISKIN TIDAK SEMPAT KAYA. Semboyan Glory for Senator From Lamongan With Love diamanatkan sebagai visi misi kejayaan anggota senat Indonesia yang religius nasionalis, tidak mempan suap, berjiwa cinta kasih sayang, berani berkorban untuk kepentingan bangsa, hidup sederhana, bersih terjaga dari perilaku maupun ucapan asusila.
About the Author
Kirim komentar
Komentar anda mungkin menunggu moderasi. Tidak perlu mengirim ulang karena akan ditampilkan setelah dimoderasi. Kirim komentar sesuai topik dan tidak melanggar Terms of Use. Tampilkan foto dengan Gravatar


