Sepi Peminat, Peluang Rebut Akhirat
- Friday, March 6, 2009, 6:59
- Agama
- Add a comment
Penulis: Gus Adhim
Lihat di sekililing kita. Semua orang menjadi gelisah diburu waktu. Cemas karena belum sukses. Kekayaan belum mau menghampiri. Kebanggaan tak juga didapat. Perut lapar belum terisi. Badan kepanasan kehujanan karena rumah belum terbeli. Sakit dan derita belum terobati. Syahwat kesenangan belum terpuaskan.
Ya,
Inilah dunia nyata yang langsung bisa dijangkau alat indera. Bangga dan hina bisa dirasa. Sakit dan sehat langsung teraba. Kaya dan miskin menampak di depan mata. Lapar dan kenyang dapat diketahui. Nikmat dan sengsara bisa dirasa. Semua hal-hal itu dapat dirasa, didengar, dilihat, diraba, dibuktikan dengan indera. Akhirnya dengan segala cara diupayakan untuk membuat hidup jadi lebih layak dan menghindari sejauh mungkin hidup yang tidak enak. Bermimpi tentang cita-cita. Merenda asa dan masa depan. Semua orang ingin senang dan menjauhi kesengsaraan.
Tapi ingat, Manusia !
Masih ada satu tahapan kehidupan lagi yang mesti kita jalani: Akhirat. Di sana berlaku juga rumus kehidupan seperti di dunia. Ada senang-susah. Ada tawa dan tangis. Ada kegagalan-kesuksesan. Ada hadiah dan hukuman. Ada balasan pahala dan dosa. Ada rumah api dan rumah permata. Ada sorga yang mewakili kesenangan dan neraka yang mewakili penderitaan. Semuanya bergantung pilihan yang diputuskan saat hidup di dunia ini. Mau melarat atau jadi konglomerat di akhirat, semua dimulai dari tes ujian dunia. saat ini juga
Nyatanya,
Kebanyakan diantara kita masih diliputi rasa khawatir mikir kebutuhan dunia. Bila ingin sukses-bangga, ya cuma sebatas dunia. Belum ada keingingan bangga-sukses di akhirat. Nyaris tak terdengar kekhawatiran tentang sengsara-derita akhirat.
Pikirkan dari sekarang. Sudah bisa membeli rumah di dunia, apakah sudah punya rumah di akhirat? Kalau sekarang takut tidak bisa makan, pikirkan juga apakah besok kita bisa makan di akhirat?
Alangkah tidak adilnya kita. 1 diri, 1 jiwa, 1 badan raga yang sama. Memiliki kebutuhan untuk hidup dan sejahtera. Tapi kenapa keperluan yang di dunia dipenuhi, sementara kebutuhan akhirat belum kita pikir sama sekali?? Ayolah, rileks dan berbicara dengan nurani.
Saatnya mengubah orientasi,
ketika semua orang berebut harapan dan kekhawatiran dunia, semestinya ada sedikit orang yang berpaling memilih akhirat. Peluang yang cukup besar karena ia masih sepi peminat.
About the Author
Kirim komentar
Komentar anda mungkin menunggu moderasi. Tidak perlu mengirim ulang karena akan ditampilkan setelah dimoderasi. Kirim komentar sesuai topik dan tidak melanggar Terms of Use. Tampilkan foto dengan Gravatar


