Bila Anak Korban Lumpur Kuliah di ITB

Penulis:
Daus

gajahDi era rejim BHMN (Badan Hukum Milik Negara), banyak perguruan tinggi yang harus mencari uang tambahan guna menghidupi kampus yang sebelumnya menjadi tanggungjawab penuh negara. Hal yang sama juga melanda perguruan tinggi negeri teknologi ternama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Seperti yang ditulis dalam sebuah blog (http://rinaldimunir.wordpress.com/2009/02/18/gedung-benny-subianto-diman…) seorang dosen ITB, di kampus itu kini ada gedung yang dirubah namanya dari  Gedung LabTek VIII (tempat Elektro dan Fakultas STEI) menjadi gedung dengan nama  Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro.

Masih seperti  yang  ditulis oleh sang dosen tadi, pada bulan Agustus 2008 yang lalu ITB melakukan penggalangan Dana Lestari. Acara itu dihadiri oleh puluhan alumni yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Dari malam penggalangan dana itu, berhasil diperoleh komitmen Rp 100 milyar yang disumbang oleh empat orang alumni “kelas kakap”, yaitu Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Teddy P. Rachmad, dan Benny Subianto. Masing-masing mereka menyumbang 25 milyar.

Sementara di tempat terpisah, tepatnya di Porong, Sidoarjo, korban lumpur panas masih berjuang mendapatkanlapindo11 hak-haknya yang hilang.  Andai saja uang sebesar itu digunakan untuk menyelesaikan hak-hak korban lumpur, tentu akan lain ceritanya. Terutama, tentu saja bagi alumni ‘kakap’ yang pernah atau masih memilki hubungan dekat dengan korporasi yang memiliki kewajiban menyelesaikan persoalannya dengan korban lumpur.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Gedung dengan nama alumi ‘kakap’ itu sudah terlanjur berdiri tegak di kampus itu. Korban lumpur pun untuk kesekian kalinya juga sudah menelan janji manis dari pemerintah dan Lapindo terkait dengan penyelesaian hak-hak dasarnya. Lantas, bagaimana seandainya salah satu anak korban lumpur ada yang menjadi mahasiswa atau mahasiswi ITB mengetahui hal tersebut? Sedihkah mereka? Marahkah mereka?

lapindo2Atau memang sudah ada perhitungan politis yang secara sepihak meragukan, bahwa semua anak Porong, Sidoarjo tidak akan ada yang kuliah di ITB, karena selain mahal juga mereka telah menjadi generasi cacat akibat setiap hari menghirup udara yang tercemar dan juga meminum air beracun yang disebabkan oleh dampak buruk lumpur panas.

Jika itu terjadi, betapa amat malang nasib mereka, mungkin seperti lirik lagu Grass Rock, sebuah group band asal Surabaya  pada era 1990-an, “Terang sangat terang, Mataku memandang, Kenyataan itu ternyata menusuk pinggang,”

sumber link:

http://satudunia.net/?q=content/bila-anak-korban-lumpur-kuliah-di-itb

About the Author

admin has written 44 stories on this site.

Kirim komentar

Komentar anda mungkin menunggu moderasi. Tidak perlu mengirim ulang karena akan ditampilkan setelah dimoderasi. Kirim komentar sesuai topik dan tidak melanggar Terms of Use. Tampilkan foto dengan Gravatar

Copyright © 2010 GLORY ISLAMIC. All rights reserved. hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Developed by Teamworks Creative | Tampil baik pada web browser Mozilla Firefox